Powered By Blogger

Senin, 29 April 2013

Bentuk Penghormatan Saya kepada Udztad Jeffry (UJe)



Tulisan Bebas: Tugas Softskill Bahasa Indonesia
Nama  : Sendy Octaviani Putri
N.P.M. : 16210444
Kelas    : 3EA13

Bentuk Penghormatan Saya kepada Udztad Jeffry (UJe)
Oleh Sendy Octaviani Putri

Kalau saya boleh jujur, pada awalnya saya sempat tidak percaya dengan apa yang telah saya lihat dan dengar di televisi mengenai berita tentang meninggalnya Udztad Jeffry atau yang lebih dikenal publik dengan nama panggilannya, yaitu UJe.
Ketika pagi hari di hari Jum’at kelabu itu, ibu saya membangunkan saya dan tiba-tiba berkata, “Kakak kalau naik motor sekarang hati-hati ya, mama baru lihat di tivi tentang berita Udztad Jeffry meninggal karena kecelakaan motor.” Saya yang biasanya ketika dibangunkan secara tiba-tiba seperti itu bisa dipastikan hanya akan menggeliat di tempat tidur kemudian kembali memeluk guling dengan erat dan melanjutkan waktu tidur yang sempat di interupsi, namun kali ini berbeda, saya langsung bangun dari tempat tidur dan bergegas menuju ke arah televisi untuk mengecek kebenaran berita tersebut, dan benar saja, saat saya menyaksikan sebuah channel tv, banyak berita televisi yang tengah menayangkan kronologis kecelakaan yang dialami oleh Udztad Jeffry, “Innalillahi wa innailaihi raji’un” sangking hebohnya dari tadi mendengar berita tersebut saya sampai telat mengucap kalimat tersebut.
Saya pribadi turut bersedih atas kejadian ini, karena saya sendiri pernah mendengar Almarhum berceramah secara langsung ketika saya masih duduk di bangku SMA. Sebagai generasi muda, banyak dari kita yang tidak bisa mengingkari bahwa setiap jiwa-jiwa muda pasti agak malas jika harus duduk berlama-lama mendengar ceramah, hal ini bisa dibuktikan dari sedikitnya jumlah mahasiswa yang menghadiri mata kuliah Pendidikan Agama Islam ketika saya sudah duduk di bangku kuliah sekarang ini, menyedihkan memang. Bukannya saya bermaksud sombong, tapi saya sendiri bukanlah tipe mahasiswi yang sering titip absen, saya bisa dibilang sangat rajin menghadiri kelas, saya selalu memegang prinsip, “Lebih baik mendengarkan dari dosen langsung dari pada harus meminjam catatan teman.” karena pada umumnya manusia lebih mudah mengingat sesuatu berdasarkan memori suara dibandingkan dengan apa yang ia baca. Sewaktu semester 1, mata kuliah Pendidikan Agama Islam di letakkkan di jam mata kuliah akhir, ketika mata kuliah sebelum PAI selesai, banyak mahasiswa yang sudah meninggalkan kelas, dan hanya menyisakan beberapa orang mahasiswa, jadi ketika dosen Pendidikan Agama Islam masuk ke dalam kelas, yang diajar oleh beliau hanyalah tersisa beberapa orang mahasiswa, saya kasihan melihatnya, mungkin dosen saya beranggapan, yang terpenting adalah kualitas pengajarannya, bukan banyaknya mahasiswa yang hadir, tapi saya sedih melihat kenyataan yang ada, saya akui, saya bukanlah orang yang terlampau relijuis, tapi dengan melihat ini, bisa ditebak seberapa tipisnya proteksi agama yang dimiliki oleh generasi muda masa kini, karena ilmu tanpa agama bagaikan seoang pria buta tanpa tongkat, dan begitupun sebaliknya. Tanda tanya besar menempel di kepala saya, mau dibawa kemana bangsa ini jika generasi mudanya saja malas hadir di kelas agama dan justru memilih menghabiskan waktu di area parkiran kampus sambil merokok? Saya tidak bermaksud menghakimi teman-teman sekelas saya, hanya saja, hal ini membuat saya penasaran dan bertanya kepada beberapa teman sekelas saya yang sering membolos pada mata kuliah agama, beberapa dari mereka dengan santai menjawab, “Kita udah belajar agama sejak SD hingga SMA, bahkan malahan udah ada yang bisa membaca iqro dari sebelum TK, apa perlu kita mempelajari agama lagi? Toh kita udah tau mana yang benar dan mana yang salah, ini hanya masalah pilihan, gue sendiri memutuskan untuk nggak ikut pelajaran agama, lantas apa dengan duduk manis sepanjang perkuliahan agama dan mengisi absensi kita akan langsung jadi orang soleh? Hadir atau nggak hadirnya gue nggak akan terlalu berpengaruh besar ke diri gue, kalo menurut gue ya.. kita tahu ini salah, tapi kita ini udah besar, nggak ada yang bisa ngelarang atau nyuruh-nyuruh kita lagi, yang akan bertanggung  jawab atas diri gue sendiri ya gue, gue tahu itu.” Begitulah kira-kira jawaban yang terlontar, sebagian dari jawaban tersebut mungkin memang tidak bisa disalahkan, namun jawaban tersebut tidak sepenuhnya benar. Kalau menurut saya, menyesatkan diri dengan memilih jalan yang buruk itu namanya bukanlah pilihan tapi menyesatkan diri, yang dinamakan dengan pilihan yang sebenarnya adalah memilih yang terbaik diantara yang baik.
Mungkin yang mereka maksud adalah, ketika mereka mendengarkan mata kuliah agama, mereka sudah mengerti inti dari pembelajaran agama itu sendiri, yaitu mengajarkan kebajikan, yang mereka harapkan sebenarnya mungkin lebih ke arah bagaimana pelajaran agama bisa dikemas menjadi lebih menarik untuk disimak, hal itulah yang mampu disajikan dengan sangat apik oleh Udztad Jeffry, ceramah yang disampaikan oleh Almarhum sangat menyentuh kalbu, selain itu ceramahnya selalu diselingi dengan canda gurau yang membuat pendengarnya tidak merasa bosan, saya berkata seperti ini bukan sebagai mahasiswi yang tengah mencoba menyelesaikan tugas tulisan bebas yang diperintahkan oleh Bu dosen, tapi semata-mata sebagai seorang umat yang pernah mendengar secara langsung dan mengamati bagaimana cara Almarhum berceramah. Kalau boleh jujur, saya biasanya tidak betah berlama-lama duduk mendengarkan ceramah (kecuali untuk keperluan tugas sekolah), pasti ada saja hal yang saya lakukan sembari mengisi waktu mendengarkan ceramah tersebut, misalnya sambil memainkan handphone, ini memang tidak pantas ditiru, namun tak jarang beberapa orang tua melakukan hal yang sama. Tetapi berbeda dengan saat ketika saya mendengarkan ceramah dari Udztad Jeffry dan kawan-kawannya (pada waktu kunjungan Udztad Jeffry ke SMA saya, Almarhum turut membawa beberapa rekan penceramah bersamanya), ketika itu saya duduk di bangku barisan depan bersama beberapa teman saya, saya begitu terlarut dengan ceramah yang disampaikan oleh Almarhum, saya tidak melewatkan satu momen pun ketika itu, saya bahkan tidak berani ke kamar kecil. Ceramah yang disampaikan begitu mengalir, layaknya seorang teman yang tengah membagikan cerita kepada teman lainnya, tidak berkesan menggurui. Benar-benar seperti mendengar anak muda tengah berceramah, hanya saja yang membedakan adalah Almarhum menyampaikannya dari atas panggung. Pembawaan Almarhum yang hangat sangat terpancar kala itu, tak heran kini kita bisa melihat banyaknya orang yang menghadiri pemakaman Almarhum, mereka adalah contoh kecil dari orang-orang yang tergerak hatinya ketika mendengar ceramah yang disampaikan oleh Almarhum. Namun kini sosok hangat itu telah berpulang ke Rahmatullah, kita hanya bisa berdoa semoga Almarhum ditempatkan di tempat yang sebaik-baiknya. Amiin Ya Rabbal Alamiin. Selamat jalan Udztad Jeffry.

1 komentar:

  1. Karna Di ERTIGAPOKER Sedang ada HOT PROMO loh!
    Bonus Deposit Member Baru 100.000
    Bonus Deposit 5% (klaim 1 kali / hari)
    Bonus Referral 15% (berlaku untuk selamanya
    Bonus Deposit Go-Pay 10% tanpa batas
    Bonus Deposit Pulsa 10.000 minimal deposit 200.000
    Rollingan Mingguan 0.5% (setiap hari Kamis

    ERTIGA POKER
    ERTIGA
    POKER ONLINE INDONESIA
    POKER ONLINE TERPERCAYA
    BANDAR POKER
    BANDAR POKER ONLINE
    BANDAR POKER TERBESAR
    SITUS POKER ONLINE
    POKER ONLINE


    ceritahiburandewasa

    MULUSNYA BODY ATASANKU TANTE SISKA
    KENIKMATAN BERCINTA DENGAN ISTRI TETANGGA
    CERITA SEX TERBARU JANDA MASIH HOT

    BalasHapus