TUGAS SOFTSKILL BAHASA
INDONESIA 2
Nama : Sendy Octaviani Putri
N.P.M. : 16210444
Kelas : 3EA13
Penalaran
adalah proses berpikir yang bertolak dari pengamatan indera (pengamatan
empirik) yang menghasilkan sejumlah konsep dan pengertian. Berdasarkan
pengamatan yang sejenis juga akan terbentuk proposisi – proposisi yang
sejenis, berdasarkan sejumlah proposisi yang diketahui atau dianggap benar,
orang menyimpulkan sebuah proposisi baru yang sebelumnya tidak diketahui.
Proses inilah yang disebut menalar.
Dalam
penalaran, proposisi yang dijadikan dasar penyimpulan disebut dengan premis (antesedens)
dan hasil kesimpulannya disebut dengan konklusi (consequence).
Hubungan
antara premis dan konklusi disebut konsekuensi.
Metode
dalam menalar
Metode
induktif
Metode
berpikir induktif adalah metode yang digunakan dalam berpikir dengan bertolak
dari hal-hal khusus ke umum. Hukum yang disimpulkan difenomena yang diselidiki
berlaku bagi fenomena sejenis yang belum diteliti. Generalisasi
adalah bentuk dari metode berpikir induktif. Contoh:
Jika
dipanaskan, besi memuai.
Jika
dipanaskan, tembaga memuai.
Jika
dipanaskan, emas memuai.
Jika
dipanaskan, platina memuai.
∴ Jika dipanaskan, logam memuai.
Jika
ada udara, manusia akan hidup.
Jika
ada udara, hewan akan hidup.
Jika
ada udara, tumbuhan akan hidup.
∴ Jika ada udara mahkluk hidup akan
hidup.
Metode
deduktif
Metode
berpikir deduktif adalah metode berpikir yang menerapkan hal-hal yang umum terlebih
dahulu untuk seterusnya dihubungkan dalam bagian-bagiannya yang khusus.
Contoh:
Masyarakat Indonesia konsumtif (umum) dikarenakan adanya perubahan arti sebuah
kesuksesan (khusus) dan kegiatan imitasi (khusus) dari media-media hiburan yang
menampilkan gaya hidup konsumtif sebagai prestasi sosial dan penanda status
sosial.
Konsep
dan simbol dalam penalaran
Penalaran
juga merupakan aktivitas pikiran yang abstrak,
untuk mewujudkannya diperlukan simbol. Simbol atau lambang yang digunakan dalam penalaran
berbentuk bahasa,
sehingga wujud penalaran akan akan berupa argumen.
Kesimpulannya
adalah pernyataan atau konsep adalah abstrak dengan simbol berupa kata, sedangkan untuk
proposisi simbol yang digunakan adalah kalimat
(kalimat berita) dan penalaran menggunakan simbol berupa argumen. Argumenlah
yang dapat menentukan kebenaran konklusi dari premis.
Berdasarkan
paparan di atas jelas bahwa tiga bentuk pemikiran manusia adalah aktivitas berpikir
yang saling berkait. Tidak ada ada proposisi tanpa pengertian dan tidak akan
ada penalaran tanpa proposisi. Bersama – sama dengan terbentuknya pengertian
perluasannya akan terbentuk pula proposisi dan dari
proposisi akan digunakan sebagai premis bagi penalaran. Atau dapat juga
dikatakan untuk menalar dibutuhkan proposisi sedangkan proposisi merupakan
hasil dari rangkaian pengertian.
Syarat-syarat
kebenaran dalam penalaran
·
Jika
seseorang melakukan penalaran, maksudnya tentu adalah untuk menemukan kebenaran.
Kebenaran dapat dicapai jika syarat – syarat dalam menalar dapat dipenuhi.
·
Suatu
penalaran bertolak dari pengetahuan yang sudah dimiliki seseorang akan
sesuatu yang memang benar atau sesuatu yang memang salah.
·
Dalam
penalaran, pengetahuan yang dijadikan dasar konklusi adalah premis. Jadi semua
premis harus benar. Benar di sini harus meliputi sesuatu yang benar secara formal maupun material.
Formal berarti penalaran memiliki bentuk yang tepat, diturunkan dari aturan –
aturan berpikir yang tepat sedangkan material berarti isi atau bahan yang
dijadikan sebagai premis tepat.
A.Pengertian
Penalaran
Penalaran
adalah suatu proses berpikir manusia untuk menghubungkan fakta-fakta atau data
yang sistematik menuju suatu kesimpulan berupa pengetahuan. Dengan kata lain,
penalaran merupakan sebuah proses berpikir untuk mencapai suatu kesimpulan yang
logis.
B. Penggunaan
bahasa Indonesia dalam proses Penalaran
Disini,
yang dimaksudkan dengan penggunaan bahasa indonesia dalam proses penalaran
adalah Penulisan Ilmiah. Proses penalaran digunakan untuk menyusun Penulisan
Ilmiah.
· Konsep
Ilmiah
Menurut
Kamus Besar Bahasa Indonesia (Kamisa, 1997) menjelaskan bahwa Ilmiah adalah
sesuatu yang didasarkan atas ilmu pengetahuan. Kata ilmu sendiri merupakan kata
serapan dari bahasa Arab “ilm” yang berarti memahami, mengerti atau mengetahui.
Dalam kaitan penyerapan katanya, ilmu pengetahuan dapat berarti memahami suatu
pengetahuan.
· Persyaratan
Ilmiah
1.
Obyektif
Ilmu
harus memiliki obyek kajian yang terdiri dari satu golongan masalah yang sama
sifat hakikatnya, tampak dari luar maupun bentuknya dari dalam. Obyeknya dapat
bersifat ada, atau mungkin ada karena masih harus diuji keberadaannya. Dalam
mengkaji obyek, yang dicari adalah kebenaran, yakni persesuaian antara tahu
dengan obyek, dan karenanya disebut kebenaran obyektif; bukan subyektif
berdasarkan subyek peneliti atau subyek penunjang penelitian.
2.
Metodis
Metodis
adalah upaya-upaya yang dilakukan untuk meminimalisasi kemungkinan terjadinya
penyimpangan dalam mencari kebenaran. Konsekuensi dari upaya ini adalah harus
terdapat cara tertentu untuk menjamin kepastian kebenaran. Metodis berasal dari
kata Yunani “Metodos” yang berarti: cara, jalan. Secara umum metodis berarti
metode tertentu yang digunakan dan umumnya merujuk pada metode ilmiah.
3.
Sistematis
Dalam
perjalanannya mencoba mengetahui dan menjelaskan suatu obyek, ilmu harus
terurai dan terumuskan dalam hubungan yang teratur dan logis sehingga membentuk
suatu sistem yang berarti secara utuh, menyeluruh, terpadu , mampu menjelaskan
rangkaian sebab akibat menyangkut obyeknya. Pengetahuan yang tersusun secara
sistematis dalam rangkaian sebab akibat merupakan syarat ilmu yang ketiga.
4.
Universal
Kebenaran
yang hendak dicapai adalah kebenaran universal yang bersifat umum (tidak
bersifat tertentu). Contoh: semua segitiga bersudut 180ยบ. Karenanya universal
merupakan syarat ilmu yang keempat. Belakangan ilmu-ilmu sosial menyadari kadar
ke-umum-an (universal) yang dikandungnya berbeda dengan ilmu-ilmu alam
mengingat obyeknya adalah tindakan manusia. Karena itu untuk mencapai tingkat
universalitas dalam ilmu-ilmu sosial, harus tersedia konteks dan tertentu pula.
C. Peranan
Bahasa Indonesia dalam Konsep Ilmiah
Dalam
Penyajian sebuah Konsep Ilmiah, Bahasa Indonesia mempunyai peranan penting
dengan dibakukannya Ejaan sesuai EYD (Ejaan yang Disempurnakan). Dengan Ejaan
sesuai EYD ini, Bahasa Indonesia memiliki susunan struktur bahasa yang
Obyektif, Metodis, Sistematis dan Universal.
Peranan
tersebut, mencakup penggunaan Bahasa Indonesia dalam publikasi artikel maupun
tulisan – tulisan ilmiah, baik berupa karya tulis, penulisan ilmiah, maupun
skripsi dimana penerapannya harus sesuai dengan kaidah-kaidah yang berlaku.
Beberapa
hal sederhana misalnya tentang kaidah penggunaan huruf kapital: bahwa pada
setiap awal kalimat harus diawali dengan huruf kapital, dan huruf kapital juga
dipakai sebagai huruf pertama nama tahun, bulan, hari, hari raya, peristiwa
sejarah.
Kaidah-kaidah
tersebut tertuang dalam Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang disempurnakan.
Dengan adanya kaidah / aturan ini, maka tulisan ilmiah yang dibuat menjadi
lebih Obyektif, Metodis, Sistematik, Terstruktur dan Universal khususnya dalam
penggunaan bahasa sesuai dengan makna konsep Ilmiah itu sendiri.
Penalaran secara literal Bahasa Inggris adalah reasoning. Berasal dari kata
reason, yang secara literal berarti alasan. Berarti reasoning atau to reason
adalah memberikan/memikirkan alasan. Penggunaan Bahasa Indonesia dalam
proses penalaran dimaksudkan dalam Penulisan Ilmiah yang akan disajikan pada
penjelasan dibawah ini. dalam pembahasan kali ini akan di bahas proses
penalaran digunakan untuk menyusun Penulisan Ilmiah. Penalaran merupakan bentuk
tertinggi dari ke tiga bentuk pemikiran tersebut , sehingga penalaran akan
lebih rumit jika dibandingkan dengan pengertian dan pernyataan (proporsisi).
Penalaran adalah proses berpikir yang bertolak dari pengamatan indera
(observasi empirik) yang menghasilkan sejumlah konsep dan pengertian. Secara
sederhana, penalaran didefenisikan sebagai proses pengambilan kesimpulan
berdasarkan proporsisi – proporsisi yang mendahuluinya. Penalaran dari aspek
teoritis dapat didefinisikan sebagai proses berpikir logis dan sistematis untuk
membentuk dan mengevaluasi suatu keyakinan terhadap pernyataan atau asersi.
Tujuan dari penalaran adalah untuk menentukan secara logis dan objektif, apakah
suatu pernyataan valid (benar atau salah) sehingga pantas untuk diyakini atau
dianut.
Disini akan saya kaitkan secara langsung dengan contoh. Pemimpin teroris
mengatakan bahwa orang-orang diluar dari orang golongannya adalah kafir dan
halal untuk dibunuh. Kalau kita tanya ke pemimpin teroris, kenapa Pak pimpinan
teroris? Jawabannya, karena tertulis bahwa yang diluar jalan kita, adalah
kafir. Atau mungkin jawaban lainnya, saya ini pimpinan yang dipilih oleh kekuasaan
yang lebih tinggi. Kalian bisa percaya kekuasaan tertinggi, maka kalian
harusnya bisa percaya kata-kata saya.
Contoh diatas menjelaskan bahwa pemimpin teroris membuat pernyataan. Pernyataan
ini digunakan untuk membentuk keyakinan. Pernyataan dari pemipin teroris
beserta alasannya perlu kita kaji dengan menggunakan penalaran. Penalaran akan
menentukan apakah pernyataan dari pimpinan teroris ini layak untuk kita yakini
atau tidak.
Berikut ini adalah contoh kalimat penalaran :
“Pemimpin teroris mengatakan bahwa orang-orang diluar dari orang golongannya
adalah kafir dan halal untuk dibunuh. Kalau kita tanya ke pemimpin teroris,
kenapa Pak pimpinan teroris? Jawabannya, karena tertulis bahwa yang diluar
jalan kita, adalah kafir. Atau mungkin jawaban lainnya, saya ini pimpinan yang
dipilih oleh kekuasaan yang lebih tinggi. Kalian bisa percaya kekuasaan
tertinggi, maka kalian harusnya bisa percaya kata-kata saya.”
Contoh diatas menjelaskan bahwa pemimpin teroris membuat pernyataan. Pernyataan
ini digunakan untuk membentuk keyakinan. Pernyataan dari pemipin teroris
beserta alasannya perlu kita kaji dengan menggunakan penalaran. Penalaran akan
menentukan apakah pernyataan dari pimpinan teroris ini layak untuk kita yakini
atau tidak.
Bila dilihat dari definisi teori, maka ada 3 komponen pembentuk penalaran
yaitu,
1. pernyataan (asersi), Pernyataan merupakan masukan (input) dari penalaran
2. keyakinan, Keyakinan adalah kebersediaan untuk menerima bahwa suatu
asersi adalah benar tanpa memperhatikan apakah argumen valid atau tidak atau
apakah asersi tersebut benar atau tidak.
Properitas keyakinan terdiri dari:
•Keadabenaran: suatu keyakinan ‘proper’ bila ada kebenarannya
•Bukan
pendapat: suatu keyakinan harus bukan merupakan pendapat seorang (paling tidak
pendapat seorang yang sudah disetujui bersama-sama)
•Bertingkat:
ada tingkatan keyakinan (tidak yakin-yakin sekali)
•Berbias:
keyakinan bisa berbeda-beda tiap orang, dipengaruhi berbagai hal (contoh,
keyakinan bahwa ajaran suatu agama paling benar)
•Bermuatan
nilai: keyakinan dilekati nilai-nilai (etika, moral, agama)
•Berkekuatan:
kekuatan keyakinan orang.
•Veridikal:
kesesuaian keyakinan dengan kenyataan.
•Berketertempaan:
keyakinan harus tidak mudah untuk diubah.
3. Argumen ,
argumen merupakan proses dari penalaran, yaitu proses saling menginferensikan
pernyataan-pernyataan yang ada. Kemudian, keyakinan bahwa pernyataan konklusi
valid adalah keluaran (output) dari penalaran. Argumen merupakan serangkaian
asersi beserta inferensi atau penyimpulan yang terlibat didalamnya, merupakan
poin penting dalam penalaran. Argumen ini merupakan bukti rasional akan
kebenaran suatu pernyataan. Berarti, argumen berfungsi untuk memelihara,
membentuk, atau mengubah keyakinan.
Argumen induktif adalah argumen yang simpulannya merupakan perampatan atau
generalisasi dari keadaan atau pengamatan khusus sebagai premis. Generalisasi
menjadikan argumen induktif merupakan argumen ada benarnya (plausible argument) bukan
argumen pasti benarnya atau logis (logical argument).
Contoh argumen induktif: Kebanyakan orang Jawa Timur berani bicara. Wardoyo
orang Jawa Timur. Kesimpulannya, Wardoyo berani berbicara. Argumen ini boleh
jadi benar atau belum tentu benar (untuk meyakinkan, perlu dilekati confidence
level, misalnya 95%).
Argumen Analogi: Argumen yang menurunkan konklusi atas dasar kemiripan
karakteristik, pola, fungsi, atau hubungan unsur suatu objek yang disebutkan
dalam asersi. Kemiripan ini merupakan hubungan konseptual bukan hubungan fisis
atau keidentikan. Analogi ini memiliki kelemahan, karena bagaimanapun juga apa
yang dianalogikan memiliki banyak kelemahan. Perbedaan yang melemahkan konklusi
sering disembunyikan, padahal perbedaan sering lebih dominan daripada
kemiripan.
Argumen Sebab Akibat: Argumen untuk mendukung bahwa perubahan faktor tertentu
disebabkan oleh faktor yang lain. Kriteria penyebaban: Faktor sebab
bervariasi dengan faktor akibat (efek), faktor sebab terjadi sebelum atau
mendahului faktor akibat, tidak ada faktor lain selain faktor sebab yang diidenfikasi.
Penalaran ini juga sering terjadi dalam kehidupan manusia dengan sebutan Salah
Nalar, adalah kesalahan struktur atau proses formal penalaran dalam
menurunkan kesimpulan sehingga kesimpulan tersebut menjadi tidak valid. Jadi
berdasarkan pengertian tersebut, salah nalar bisa terjadi apabila pengambilan
kesimpulan tidak didasarkan pada kaidah-kaidah penalaran yang valid. Terdapat
beberapa bentuk salah nalar yang sering kita jumpai, yaitu: menegaskan
konsekuen, menyangkal antiseden, pentaksaan, perampatan-lebih, parsialitas,
pembuktian analogis, perancuan urutan kejadian dengan penyebaban, serta
pengambilan konklusi pasangan.
Penalaran ada juga yang dikenal dengan Penalaran Verbal. Dalam tes
penalaran verbal, biasanya Anda diberi suatu teks informasi dan diminta untuk
menilai satu set pernyataan dengan memilih salah satu dari kemungkinan jawaban
berikut:
A – Benar (Pernyataan secara logis berdasar informasi atau opini yang terdapat
dalam teks)
B – Salah (Pernyataan secara logis salah berdasar informasi atau opini yang
terdapat dalam teks)
C – Tidak dapat diketahui (Tidak dapat menentukan apakah pernyataan tersebut
benar atau salah tanpa informasi lebih lanjut)
Peranan Bahasa Indonesia dalam Konsep Ilmiah
Dalam Penyajian sebuah Konsep Ilmiah, Bahasa Indonesia mempunyai peranan
penting dengan dibakukannya Ejaan sesuai EYD (Ejaan yang Disempurnakan). Dengan
Ejaan sesuai EYD ini, Bahasa Indonesia memiliki susunan struktur bahasa yang
Obyektif, Metodis, Sistematis dan Universal.
Peranan tersebut, mencakup penggunaan Bahasa Indonesia dalam publikasi artikel
maupun tulisan – tulisan ilmiah, baik berupa karya tulis, penulisan ilmiah,
maupun skripsi dimana penerapannya harus sesuai dengan kaidah-kaidah yang
berlaku.
Beberapa hal sederhana misalnya tentang kaidah penggunaan huruf kapital: bahwa
pada setiap awal kalimat harus diawali dengan huruf kapital, dan huruf kapital
juga dipakai sebagai huruf pertama nama tahun, bulan, hari, hari raya,
peristiwa sejarah.
Selain kaidah penggunaan huruf kapital tersebut, masih banyak aturan penggunaan
Bahasa Indonesia yang lainnya. Terkadang, dalam publikasi tulisan ilmiah juga,
kita menggunakan kata serapan dari bahasa lain, baik dari bahasa daerah maupun
dari bahasa asing seperti Sanskerta, Arab, Portugis, Belanda, atau Inggris.
Untuk penulisan kata-kata serapan tersebut juga ada aturan dalam penulisannya,
dimana berdasarkan taraf integrasinya, unsur serapan dalam bahasa Indonesia
dapat dibagi atas dua golongan besar.
Pertama, unsur serapan yang belum sepenuhnya terserap ke dalam bahasa
Indonesia, seperti: reshuffle, shuttle cock, I’exploitation de l’homme par
I’homme. Unsur-unsur ini dipakai dalam konteks bahasa Indonesia, tetapi
pengucapannya masih mengikuti cara asing.
Kedua, unsur serapan yang pengucapan dan penulisannya disesuaikan dengan kaidah
bahasa Indonesia. Dalam hal ini diusahakan agar ejaannya hanya diubah
seperlunya sehingga bentuk Indonesianya masih dapat dibandingkan dengan bentuk
asalnya.
Sources:
id.wikipedia.org/wiki/Penalaran
ivanialab.blogspot.com/.../bagaimana-penalaran-digunakan-dalam.html